Nama :
Muhamad Galang Isnawan
NIM :
1270 9251 021
Kelas :
A 2012
Prodi. :
Magister Pendidikan Matematika
Ini alamat file rekamannya pak:
http://www.ziddu.com/download/20885193/prof.marsigt22.rar.html
Elegi Menggapai Jawaban
(Refleksi 12 November
2012)
Ruang
terdiri atas empat tingkatan, yaitu ruang material, ruang formal, ruang normative,
dan runag spiritual. Dan setiap ruang memiliki tingkatan ruangnya masing-masing
dan begitupun seterusnya. Sebenar-benar ruang adalah intuisi. Dan intuisi dari
ruangan adalah intuisi dari intuisi. Sehingga untuk memahami ruang adalah
dengan menggunakan intuisi. Cara mengekstensi ruang adalah dengan menggunakan
analog. Sedangkan untuk mengintensinya kita menggunakan abstraksi atau reduksi.
Siapakah
yang bisa menembus ruang dan watu, ternyata adalah dirimu. Dirimu adalah berdimensi,
dirimu secara material adalah yang konkret, dirimu secara formal adalah
tulisanmu, dirimu secara normative adalah pikiranmu, dan dirimu secara
spiritual adalah doamu. Seperti yang kita ketahui bahwa doa bisa menembus ruang
dan waktu, ruang dan waktu dari yang ada dan mungkin ada. Sungguh dimanapun
kita berada dan kapanpun, lakukanlah doa tersebut karena ketika kita berdoa
kita akan mengingat Allah dan mendapatkan pahala atas perbuatan tersebut.
Ketika
kita ingin cerdas, maka tirulah seorang Abu Bakar As Siddik. Kerena sungguh
hanya dia saja yang bisa menjawab pertanyaan Rasulullah mengenai perihal
melihat wajah Beliau.
Dajjah
adalah system yang tidak kita kehendaki. Kapitalis, Pragmatis, Hedonism, dan Utilitarian
adalah dajjal bagi para kaum spiritual. Karena mereka meletakkan spiritual di
tengah. Mereka menganngap bahwa kenikmatan adalah tak berhingga jumlahnya dan
tidak memiliki batas. Mereka merasa puas ketika mereka bisa menemukan sesuatu
yang baru dan mereka berusaha secara operasional membedakan antara cinta dan
menikah.
Di
dunia barat, istilah RIP adalah adalah istilah yang sangat tinggi. Mereka
menganggap ketika mereka mengingat sesuatu (Never
Forget, Always remember You), sungguh itulah tingkatan kepercayaan yang
paling tinggi. Padahal ketika kita berusaha untuk memahaminya, tidakkah sesuatu
tersebut hanya berhenti hanya sampai di pikiran saja atau normative. Tidakkah
kita menyadari bahwa sebenar-benar tingkatan adalah tingkatan spiritual.
Pantaskah ini dinamakan kepercayaan? Allahuallam Bissawab.
Agama
hindu, menyatakan bahwa setiap zat adalah sakral. Hmmm. Tidakkah hal ini salah?
Apakah benar bahwa kentut adalah sacral? Pikirkanlah wahai
saudaraku.Bertaubatlah dengan berusaha mempelajari agama yang lain (Islam)
karena sungguh engkau akan menemukan kebenaran yang absolute.
Sungguh,
separuh duniaku adalah aku senyumi dan separuh dunia aku tangisi. Nikmat sehat
orang tuaku, nikmat atas segala sesuatu adalah contoh yang aku senyumi. Dan
menangisi dosaku adalah tangisanku. Stigma adalah separuh hidupku. Setiap orang
memiliki stigma. Contohnya, dalam mendefiniskan RPP, setiap orang memiliki
stigma masing-masing. Stigma antara guru dalam mendefinisikan RPP, akan berbeda
dengan stigma yang dimiliki kepala sekolah, kepala dinas, dan pengawas. Sungguh
stigma subjek akan memakan stigma objek dalam dimensinya. Karena tidak bisa
kita pungkiri bahwa subjek memliki tingkatan yang lebih tinggi dari pada objek.
Hanyalah
orang-orang yang berilmu yang bisa menyatukan hati, pikiran, dan perbuatan. Normatifnya
interaksi adalah komunikasi. Karena sebenarnya definsi filsafat adalah ilmu
(Socrates). Berinteraksi adalah cara agar bisa memahami sesuatu. Filsafat
adalah berani unik.
Teliti
adalah paham, teliti adalah mengingat. Teliti yang dimilki setiap orang adalh
berbeda-beda. Jika kita ingin meningkatkan ketelitian kita terhadap sesuatu,
maka berspiritual atu beribadahlah setinggi-tingginya. Karena dengan mengingat
Allah, sungguh kita akan dipelihara dalam ilmu-ilmu kita oleh Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar