Kamis, 15 November 2012

Refleksi & Rekaman (12 November 2012)


Nama               : Muhamad Galang Isnawan
NIM                : 1270 9251 021
Kelas               : A 2012
Prodi.              : Magister Pendidikan Matematika
  
Ini alamat file rekamannya pak: 
http://www.ziddu.com/download/20885193/prof.marsigt22.rar.html

Elegi Menggapai Jawaban
(Refleksi 12 November 2012)
Ruang terdiri atas empat tingkatan, yaitu ruang material, ruang formal, ruang normative, dan runag spiritual. Dan setiap ruang memiliki tingkatan ruangnya masing-masing dan begitupun seterusnya. Sebenar-benar ruang adalah intuisi. Dan intuisi dari ruangan adalah intuisi dari intuisi. Sehingga untuk memahami ruang adalah dengan menggunakan intuisi. Cara mengekstensi ruang adalah dengan menggunakan analog. Sedangkan untuk mengintensinya kita menggunakan abstraksi atau reduksi.
Siapakah yang bisa menembus ruang dan watu, ternyata adalah dirimu. Dirimu adalah berdimensi, dirimu secara material adalah yang konkret, dirimu secara formal adalah tulisanmu, dirimu secara normative adalah pikiranmu, dan dirimu secara spiritual adalah doamu. Seperti yang kita ketahui bahwa doa bisa menembus ruang dan waktu, ruang dan waktu dari yang ada dan mungkin ada. Sungguh dimanapun kita berada dan kapanpun, lakukanlah doa tersebut karena ketika kita berdoa kita akan mengingat Allah dan mendapatkan pahala atas perbuatan tersebut.
Ketika kita ingin cerdas, maka tirulah seorang Abu Bakar As Siddik. Kerena sungguh hanya dia saja yang bisa menjawab pertanyaan Rasulullah mengenai perihal melihat wajah Beliau.
Dajjah adalah system yang tidak kita kehendaki. Kapitalis, Pragmatis, Hedonism, dan Utilitarian adalah dajjal bagi para kaum spiritual. Karena mereka meletakkan spiritual di tengah. Mereka menganngap bahwa kenikmatan adalah tak berhingga jumlahnya dan tidak memiliki batas. Mereka merasa puas ketika mereka bisa menemukan sesuatu yang baru dan mereka berusaha secara operasional membedakan antara cinta dan menikah.
Di dunia barat, istilah RIP adalah adalah istilah yang sangat tinggi. Mereka menganggap ketika mereka mengingat sesuatu (Never Forget, Always remember You), sungguh itulah tingkatan kepercayaan yang paling tinggi. Padahal ketika kita berusaha untuk memahaminya, tidakkah sesuatu tersebut hanya berhenti hanya sampai di pikiran saja atau normative. Tidakkah kita menyadari bahwa sebenar-benar tingkatan adalah tingkatan spiritual. Pantaskah ini dinamakan kepercayaan? Allahuallam Bissawab.
Agama hindu, menyatakan bahwa setiap zat adalah sakral. Hmmm. Tidakkah hal ini salah? Apakah benar bahwa kentut adalah sacral? Pikirkanlah wahai saudaraku.Bertaubatlah dengan berusaha mempelajari agama yang lain (Islam) karena sungguh engkau akan menemukan kebenaran yang absolute.
Sungguh, separuh duniaku adalah aku senyumi dan separuh dunia aku tangisi. Nikmat sehat orang tuaku, nikmat atas segala sesuatu adalah contoh yang aku senyumi. Dan menangisi dosaku adalah tangisanku. Stigma adalah separuh hidupku. Setiap orang memiliki stigma. Contohnya, dalam mendefiniskan RPP, setiap orang memiliki stigma masing-masing. Stigma antara guru dalam mendefinisikan RPP, akan berbeda dengan stigma yang dimiliki kepala sekolah, kepala dinas, dan pengawas. Sungguh stigma subjek akan memakan stigma objek dalam dimensinya. Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa subjek memliki tingkatan yang lebih tinggi dari pada objek.
Hanyalah orang-orang yang berilmu yang bisa menyatukan hati, pikiran, dan perbuatan. Normatifnya interaksi adalah komunikasi. Karena sebenarnya definsi filsafat adalah ilmu (Socrates). Berinteraksi adalah cara agar bisa memahami sesuatu. Filsafat adalah berani unik.
Teliti adalah paham, teliti adalah mengingat. Teliti yang dimilki setiap orang adalh berbeda-beda. Jika kita ingin meningkatkan ketelitian kita terhadap sesuatu, maka berspiritual atu beribadahlah setinggi-tingginya. Karena dengan mengingat Allah, sungguh kita akan dipelihara dalam ilmu-ilmu kita oleh Allah SWT.